Minggu, 19 Desember 2010

Pendidikan dalam QS. al-Nas

PENDIDIKAN DALAM QS. AL-NAS
Hasbiyallah, M. Ag
Pendahuluan
Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, hanya terdiri dari 30 juz, 114 surat dan 6666 ayat tidak sebanding jika diukur dengan permasalahan-permasalahan yang dihadapi umat manusia, namun itulah kehebatan al-Quran sebagai petunjuk kehidupan mampu membahas dan memecahkan persoalan manusia dalam kehidupan ini dari mulai sejak kehidupan ini ada sampai kehidupan ini berakhir. Hal ini jelas telah membuktikan bahwa al-Quran adalah firman Allah yang memiliki kehebatan dan kemukjizatan. Siapapun manusia yang mengkaji dan mendalaminya akan memperoleh petunjuk dari ayat-ayat yang terdapat dalam al-Quran.
Dalam dunia pendidikan Islam, tentunya al-Quran dijadikan sbagai dasar utama dan pertama dalam perencanaan, proses dan pengembangan pendidikan Islam. Tulisan ini mencoba menganalisis surat terakhir dari al-Quran ini yaitu surat al-Nas. Bagaimana perencanaan, proses danpengembangan pendidikan Islam dalam surat tersebut.
Surat al-Nas terdiri dari 6 ayat dan termasuk kategori surat makkiyah, yaitu surat yang diturunkan sebelum hijrah baginda Rasulullah SAW ke Madinah. Surat ini dapat dikatakan sebagai surat penutup. Sebagai surat penutup, surat ini banyak kesamaan dengan surat pembuka (al-Fatihah). Coba bandingkan ayat kedua dalam surat pendahuluan kata al-Hamdulillahirabbil ‘alamin. Kata “Rabbil ‘alamin” serupa dengan kata kul a’udzu bi rabbinnas. Ada kata rabbin nas. Kata rabbil ‘alamin dan kata rabbin nas. Tuhan (pengatur) alam semesta dengan Tuhan (pengatur) manusia. Pada kedua surat tersebut Allah menyatakan diri-Nya sebagai Rabb (Pengatur); yaitu pengatur alam semesta dan Pengatur manusia.
Kemudia pada ayat berikutnya kata maliki yaumiddin serupa dengan kata malikin nas. Yakni penguasa hari pembalasan dan penguasa manusia. Kemudian pada kata iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in memiliki kesamaan dengan ilahin nas. Kepada-Nya kami menyembah dan kepada-Nya lah kami memohon. Pada kedua surat tersebut, Allah menyatakan dirinya sebagai Ilah (Tuhan yang berhak di sembah).
Demikianlah pelajaran bagi kita sebagai ilmuwan atau penulis bahwa pendahuluan dan penutupan harus memiliki kesesuaian. Penutup sebagai penguat dari masalah yang diutarakan dalam penutup.
Pendidikan dalam QS. Al-Nas
Pendidikan yang terdapat dalam surat al-Nas ini dapat ditinjau dari sisi perencanaan, proses dan pengembangan pendidikan Islam. Diantaranya sebagai berikut:
Pertama: dalam perencanaan pendidikan Islam harus berfokus kepada perlindungan hak-hak peserta didik dan perlindungan terhadap fisik dan jiwa peserta didik. Sekolah harus betul-betul melindungi peserta didik dari pengaruh yang tidak baik bagi kesehatan dan jiwa peserta didik. Sekolah wajib mencegah peserta didik dari perilaku-perilaku jahat seperti masuk geng motor yang sekarang ini marak terjadi di kalangan pelajar kita, perilaku seks bebas, narkoba dan perkelahian antar pelajar. Sekolah juga wajib melindungi jiwa peserta didik dengan menyelenggarakan proses pendidikan yang menyenangkan dan mengembangkan potensi peserta didik, bukan proses pembelajaran yang mengekang, menakutkan dan memaksakan serta hukuman selalu dijadikan solusi pemecahan setiap problem peserta didik.
Kedua, proses pendidikan memerlukan aturan, aturan bagi pendidik, tenaga pendidikan dan peserta didik. Allah menyatakan bahwa dirinya sebagai Tuhan yang mengatur manusia dan juga alam. Kepala Sekolah sebagai orang tertinggi di satuan pendidikan juga harus berfungsi sebagai pengatur, guru juga sebagai orang tertinggi di kelas berfungsi sebagai pengatur peserta didik. Bagaimana agar aturan ini dilaksanakan dan diaplikasikan, hendaknya aturan dibuat berdasarkan fitrahnya sebagai manusia. Lihatlah dan pikirkanlah mana aturan-aturan Allah yang tidak dapat diterima oleh akal manusia. Karena Allah membuat aturan didasarkan pada fitrah manusia. Oleh karena itu, aturan yang dibuat oleh kepala sekolah harus didasarkan kepada kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan dan aturan yang dibuat oleh guru harus didasarkan kepada kebutuhan peserta didik. Peserta didik bukan harus dicetak apa yang dikehendaki oleh pendidik, tetapi harus dicetak dan dididik berdasarkan minat dan bakat peserta didik.
Ketiga, lafazh ‘malikin nas’: mengisyaratkan bahwa Allah sebagai penguasa manusia. Sekolah dalam hal ini orang-orang yang terlibat dalam pendidikan peserta didik sebagai penguasa peserta didik. Menguasai peserta didik dalam koridor yang dibenarkan, yakni didasarkan kepada pendidikan dan kebaikan peserta didik. Seperti memerintahkan peserta didik untuk berseragam untuk persamaan hak dan status peserta didik yang harus dilayani tanpa mempertimbangkan status ekonomi dan sosial tertentu. Memerintahkan peserta didik masuk sekolah tepat waktu untuk mendisiplinkan waktu, dan perintah belajar dan mengerjakan tugas adalah contoh sebagian dari penguasaan pendidik terhadap peserta didik. Disamping itu, pendidik dituntut pula untuk menguasai kelas, sehingga proses pembelajaran menjadi menarik dan mudah dipahami oleh peserta didik.
Keempat, ilahin nas : Allah menyatakan diri-Nya sebagai Sesembahan manusia (tuhan manusia). Dalam dunia pendidikan Islam, tidak ada yang perlu disembah dan ditaati kecuali Allah. Manusia dibolehkan mentaati aturan yang dibuat oleh manusia jika sesuai dengan aturan Allah dan tidak melanggar aturan-aturan-Nya. Perhatikanlah perintah Allah athi’ullah wa athi’ur rasula wa ulil amri minkum. Perintah untuk taat kepada Allah dan Rasul disebutkan kata athi’u sedangkan kepada ulil amri tidak disebutkan lafazh tersebut. Dalam hal ini, kepala sekolah dan guru boleh diikuti dan ditaati sepanjang aturan-aturan tersebut tidak keluar dari aturan-aturan yang dikehendaki oleh Allah. Seperti guru memerintahkan siswanya membuka auratnya, guru memerintahkan siswa untuk bermabuk-mabukkan dan lain sebagainya.
Kelima, min syarril waswasil khannas’: Allah sebagai tempat perlindungan dari was-was kejahatan: dalam dunia pendidikan Islam, guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar tetapi juga sebagai pendidik, diantara tugas pendidik adalah menghilangkan segala macam keragu-raguan yang ada pada peserta didik, keraguan siswa terhadap tuhan, guru harus meyakinkan Tuhan pada diri peserta didik, keraguan peserta didik akan ilmu pengetahuan yang masih atau remeng-remeng diketahui oleh mereka menjadi ilmu pengetahuan yang semakin mantap dan diyakini kebenarannya. Guru juga jangan menyampaikan ilmu yang dia sendiri tidak menguasai materi tersebut, karena akan membuat peserta didik bingung dan tidak mengerti, bagaimana mungkin, pendidiknya saja tidak mengerti apalagi peserta didiknya. Oleh karena itu, pendidik dituntut untuk terus mencari dan menggali ilmu pengetahuan sampai akhir hayat (long life education).
Keenam, alladzi yuwaswisu fi sudurinnas: kewas-wasan selalu ada dalam dada manusia. Allah menginformasikan kepada manusia bahwa keraguan dan sifat was-was itu ada pada dada manusia. Jadi sifatnya abstrak tidak terlihat. Dalam dunia pendidikan, pendidik dituntut mampu membaca perasaan peserta didik, pendidik dituntut pula mengetahui emosi peserta didik, pendidik mengetahui kondisi peserta didik yang sedang kesusahan atau ditimpa musibah, dan segera membantu dan mencarikan solusi dari musibah yang ditimpa oleh peserta didik. Dalam istilah lain pendidik dituntut untuk memiliki kecerdasan emosional dan spiritual.
Ketujuh, minal jinnati wan nas: di ayat terakhir ini, Allah menginformasikan bahwa keraguan dan kebimbangan itu datang dari kalangan jin (yang tidak tampak) dan manusia (yang tampak). Manusia dan jin sering memasukkan virus-virus negatif kedalam dada peserta didik, seperti virus kata-kata “jangan belajar orang tua kita sudah kaya ini” atau kata-kata “buat apa sekolah kalau akhirnya jadi pengangguran”. Dan banyak kata-kata lain yang melemahkan semangat peserta didik. Kata-kata itu terkadang datang dari teman sendiri atau dari perasaan diri sendiri. Oleh karena itu, pendidik harus menegaskan dan melawan virus-virus itu dengan kata-kata yang membangkitkan motivasi peserta didik seperti kata-kata “Belajarlah sungguh-sungguh, karena kesuksesan Anda sangat tergantung dengan belajar Anda.” Atau kata-kata “Carilah ilmu baik di sekolah dan di manapun, karena ilmu akan menunjukan arah yang benar kepada Anda”. Dengan kata lain, pendidik harus sebagai motivator peserta didik.
Demikianlah, perencanaan, proses dan pengembangan pendidikan Islam dalam QS. Al-Nas. Hanya Allah yang Mengetahui kebenaran surat ini. Tulisan ini mudah-mudahan dapat dijadikan rujukan dalam perencanaan, proses, dan pengembangan pendidikan Islam ke depan. Maju terus pendidikan Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar